"Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'."
-Soe Hok Gie
Eleanorade.
Seatin on row C
Love to travel and The Beatles.
and watching some movies too.
Instagram
Twitter

Flâneur
Friday, September 6 at around 11:01
The flâneur -- the person who strolls, gazes, looks through the city streets for the life, the sights, and the sounds that are worth noting in an increasingly complex world.
-Artist in an A-frame
Menahun saya berjalan terombang-ambing tanpa juntrungan berusaha
menyeimbangkan dorongan rasa dan tarikan fakta. Mengutip kalimat seorang
sahabat yang tanpa diminta memberi petuah-petuah asam menyangkut hal romansa; “...yang
dibutuhin dunia itu kepastian...kebahagiaan tanpa kepastian itu buang-buang
waktu...tapi kepastian tanpa kebahagiaan itu ngerusak hati...” Pun saya mulai
menyadari kalau ternyata something perpetual (yang telah lama tidak terungkap
dengan gamblang) needs to be discussed soon. Sebenarnya sih ini hanya penekanan
tetek-bengek tentang kegamblangan perasaan untuk sekedar melega namun tidak
bisa kalau terlalu lama hanya dianggap angin lalu pembawa picisan yang memang
harumnya seolah terlihat riil dan mampu digapai di awal tapi nyatanya kabur dan
menghilang cepat hampir tanpa jejak, bahkan bisa saja itu terjadi sebelum kita sadar
kalau ternyata telah melampaui the end of phase.
Betapa rumpang jalan yang sedang saya tempuh kali ini, di masa hidup kali
ini. Jalan dengan setapak berbatu pualam yang ditata jarang-jarang, satu tapak-kerikil
tajam-satu tapak lagi-kerikil lagi, begitu seterusnya berbelok-belok entah
terukur sejauh apa dalam kilometer, entah setan apa yang merangsek masuk ke
dalam jiwa saya dan membuat kaki saya mau berjalan terus menyusuri setapak ini padahal
dari tapakan kaki saya yang paling awal saja di jalan ini, sudah terlihat ada tembok
yang menjulang sangat tinggi, crystal clear, menghalangi setapak yang akan saya
lalui. Mungkin memang rasa sakit yang menusuk secara simultan setiap saat
berjalan di atas kerikil tajam ini dapat menguji kemampuan saya untuk menahan air di sudut
mata yang terpaksa menetes akibat sesak pilu yang mengasapi jiwa, sayang sekali
saya lebih tidak bisa menerima rasa sakit yang datangnya dipenghujung akhir
ketika harus membenturkan diri ke tembok tinggi itu.
Semakin jauh saya berjalan, tanpa diharapkan tembok itu menjadi amat
mengerikan, mengecilkan keberanian untuk menegakkan kepala dan menatap lurus ke
depan. Terlalu lama menunduk membuat saya berlaku realistis untuk tidak muluk-muluk
melewati tembok tinggi dengan menerobos dan membiarkan badan melebam biru,
meloncati takdir. Terlalu lama menutup hati membiarkan saya lupa membuka mata
untuk melihat sekeliling. Sampai suatu ketika ditengah desakan kabut pekat yang
berebut menutupi langit malam, bola mata saya sontak terbelalak karena sebuah
bintang dengan gemerlap hijaunya jatuh di balik pemandangan pegunungan walau
hanya di sudut mata. Saat itu bulan bersinar sangat terang ditemani taburan
bintang, belum pernah saya lihat sebelumnya sorotan cahaya bulan bak stage-spotlight
seperti malam itu. Terburu-buru saya memanjatkan asa walau masih tercengang
dengan kilauan sinarnya yang telah lalu. Hanya satu pengharapan yang terucap dalam batin, saya
tidak mau jalan ini terlalu pendek untuk dilewati. Kesakitan ini ternyata dengan
gampangnya ditawar oleh bujuk rayu jemari yang bertautan dan pundak yang selalu
sedia ketika tubuh ini butuh tempat untuk bersandar.
Sesungguhnya diawal tembok itu terlihat, saya langsung beranggapan bahwa
jalan ini pasti berakhir buntu dipagari tembok tinggi itu, namun setelah jauh
berjalan dengan kaki bergetih, saya tercengang ketika dari kejauhan jalan
setapak itu terlihat bercabang dua, ke kiri dan ke kanan, sebelum tembok tinggi
itu menghalangi. Mendadak goncangan kenyataan membangunkan saya dari buaian
bunga tidur tentang menjadi flâneur (meskipun mempunyai banyak definisi, arti flâneur
yang sesuai dalam konteks ini adalah ‘pengelana yang berkelana ke mana saja,
tanpa tujuan’ mengacu pada fiksi Leila S. Chudori berjudul Pulang di dalam bab
Flâneur). Entah bagaimana caranya mimpi itu merasuk ke alam bawah sadar dan
mendoktrin saya untuk percaya bahwa jalan yang saya tempuh tidak bercabang dua karena
nyatanya jalan ini memang ada dua. Selama ini dengan bodohnya saya mempertahankan anggapan bahwa dua jalan ini bisa menjadi satu bagaimanapun itu caranya.
Namun sekeras apapun
usaha untuk meleburkan jalan ini menjadi satu, tetap ada celah kecil yang menjeda. Jeda itu adalah ruang dimana saya harus tansah eling untuk tidak terlalu terlena oleh manisnya perjalanan padahal harfiahnya perjalanan yang sudah tertebak dimana tujuannya merupakan perjalanan paling pahit bagi seorang flâneur. Dan karena seberapapun ingin saya menhapus kecilnya jeda yang membedakan jalan ini, masih lebih baik berbelok dan melengos sebelum saatnya daripada di penghujung nanti saya harus menghantam tembok tinggi itu atau lebih tragis lagi terpaksa merobek setapak menjadi dua, membaginya disaksikan tembok tinggi itu sampai-sampai ditertawakan oleh takdir.
Labels: Thought

Archives
Do you crave for more posts?
Chatter On
None of us living without some sparks


